Monday, 3 April 2017

Bincang Edukasi Bersama Benji




Biasanya jadi pengunjung setia Bincang Edukasi alias Bined Bandung. Eh kali ini, diminta jadi narasumber bersama Benji. Kya! Menegangkan yah? Hahaha..dan percaya nggak sih, seminggu sebelum acara, saya nggak tenang mempersiapkan materi, slide, sama latihan presentasi. Apalagi ketika diberi tahu kalau peserta Bined itu kebanyakan guru, orang-orang yang peduli sama pendidikan (komunitas-komunitas gitu), dan) orang tua. Haduh, makinlah panas-dingin-nggak-percaya-diri. Siapalah saya ini? Tapi syukurlah, Kak Deta dan Kak Danti selaku kurator Bined bilang kalau buku seri Benji itu menarik dan unik. “Ayo dong berbagi!”
Jadilah setelah berdiskusi, kami mengambil tema “Menumbuhkan Kecintaan Bacaan Anak lewat Buku Cerita Aktivitas.” Sebuah tema yang berguna dan aplikatif untuk semua sasaran peserta Bined.

Nggak cukup deg-degan seminggu sebelum acara, sehari sebelum acara apalagi, ya kan? Terutama ketika malam itu dikabari kalau saya mendapat giliran pertama untuk tampil. Kwak!

Sabtu, 01 April 2017, pagi hari pukul 09.00, saya sudah berada di TK A Santo Yusuf, Bandung. Bukan dalam rangka ngelawak karena ini April Mop, tapi untuk Bincang Edukasi. Saya diberi waktu 17 menit untuk melakukan presentasi bersama Benji. Yuph, format Bined ini memang mirip Ted Talk yah. Hitung-hitung latihan deh buat Ted Talk nanti :D *mimpi kok ketinggian banget inih.

dokumentasi Bined
Nah, berhubung saya tegang bin gugup, saya mengawali presentasi saya dengan bermain game. Hihi. Tricky banget yah. Saya meminta semua peserta membuat lingkaran besar dengan posisi tangan untuk bermain Cing-ciripit-tulang-bajing-kejepit. Kenal permainan itu? Itu loh, menyimpan telunjuk di tangan yang terbuka, nanti begitu kata “kejepit”, tangan yang terbuka akan menutup dan setiap telunjuk harus diangkat supaya tidak tertangkap. Bedanya dalam permainan pagi itu, saya akan bercerita tentang Benji dan Musim Hujan. Setiap kata “Benji” diucapkan, setiap tangan peserta yang terbuka harus menangkap telunjuk peserta di sebelahnya. Hihi..seru loh. Soalnya semua kebanyakan tegang dan tertipu antara kata “Ben” dan “Benji.”


dokumentasi Bined
Habis permainan, suasana menjadi lebih bersahabat. Ketegangan mencair. Saya sendiri mulai rileks. Presentasi pun dimulai. Saya menceritakan ide awal menulis Benji. Bagaimana pengalaman saya mengajar dulu yang banyak menggunakan cerita kepada anak-anak berpengaruh besar terhadap Benji dan formatnya yang mengandung aktivitas. Intinya, saya berharap buku Benji yang mengandung banyak aktivitas ini dapat menjadi sumber ide dan dapat digunakan mengikuti ketertarikan anak. Harapannya, dengan kegiatan membaca yang menyenangkan ini, anak-anak pun jadi suka membaca. Sederhana, ya?

 
Dokumentasi Mbak Lenny Hendrawan
Tujuh belas menit berlalu tanpa terasa. Setelah keempat narasumber hari itu berbagi, setiap peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk dapat bertanya jawab langsung dengan setiap nara sumber. Waaah, saya tidak menyangka dan mempersiapkan, sesi diskusi kelompok kecil ini lebih seru! Banyak respon positif yang saya dapatkan dari mereka. Kebanyakan, mereka tertarik dengan cerita Benji dan formatnya yang mengandung aneka aktivitas. Beberapa guru dan calon guru pun menanyakan bagaimana cara mengetahui ketertarikan anak agar dapat memfasilitasi mereka dengan aktivitas yang sesuai. Jawabannya tentu saja : observasi!

Yang menarik lagi, dari beberapa peserta (biasanya kepala sekolah atau pemilik suatu komunitas) berminat mengundang saya ke sekolahnya kelak untuk memberi pelatihan menulis cerita anak. Harapannya, nanti para guru bisa membuat cerita sendiri, menyesuaikan dengan kondisi kelas atau tema saat itu. Kya! Berbagi itu mengasyikkan, ya :)

Tentu saja, ada sedikit catatan dalam kepala saya, ketika banyak peserta yang bertanya, “Ini bukunya sudah terbit, ya? Bisa dibeli dimana?”
Saya agak-agak terpana sih mendapati cukup banyak peserta yang mengajukan pertanyaan itu. Karena buat saya, merupakan suatu keuntungan bagaimana Benji diterbitkan oleh salah satu penerbit besar Indonesia, yaitu BIP milik Gramedia. Selain mudah ditemukan di toko buku Gramedia seluruh Indonesia, pihak BIP sendiri melakukan promosi tentang Benji. Selain itu, saya pun rajin membuat posting tentang Benji, baik melalui facebook, instagram, blog, maupun twitter dari sejak Benji terbit sampai sekarang. Daaan, sudah sembilan bulan berlalu sejak terbitnya itu. Hmm hmm... kayaknya untuk hal yang satu ini, saya masih harus banyak belajar nih. Mungkin saya harus lebih banyak keluar dan mengenalkan Benji seperti yang saya lakukan di Bined kali ini, ya? Ada ide, saran, dan masukan- terutama wahai, teman-teman penulis?

dokumentasi Bined
Tanpa terasa pukul satu siang tiba, acara harus berakhir. Kami pun berfoto bersama dengan gembira. Siap terjun kembali ke masyarakat dan melakukan sesuatu yang bermanfaat berdasarkan sharing yang didapat hari ini.

"Dunia luas, saya kecil. Dunia besar, saya masih diam di tempat. Saya mau bergerak," salah satu kesan peserta Bined. Dokumentasi pribadi.
Yuk, semangat!

Saturday, 25 March 2017

Trik Dan Cerita Asyik Lewat Tali.



Buat saya, dongeng tali itu semacam trik sulap. Haha. Rasanya saya lebih percaya diri kalau harus dongeng tali, karena perhatian pendengar akan terbagi dengan keterampilan tangan saya memainkan tali. Jadi, mereka nggak melulu lihat wajah saya dan membaca kegugupan di sana.
*Oke, ini terlalu mengkhayal dan hiperbola.

Silahkan baca kembali paragraph di atas dan temukan kata kuncinya.
Yuphs! KETERAMPILAN TANGAN MEMAINKAN TALI.

Jadi, dalam workshop dongeng tali ini, setiap peserta diberi sebuah tali kur berbentuk lingkaran. Kak Aio lalu mengajari langkah-langkah membelitkan tali tersebut di jari-jari salah satu tangan kita. Pokoknya langkah terakhir, senjlimet apapun belitannya, tali tersebut dapat ditarik lepas dari tangan kita. 

dokumentasi Bengkimut
Kebayang kan? Setiap peserta pun mencoba sambil garuk-garuk kepala. Awalnya sulit juga sih, apalagi saya bukan orang yang terampil dengan jari-jari. Setelah coba dan coba lagi sambil menghapalkan setiap langkah, berhasil!

Lalu, Kak Aio menceritakan sebuah dongeng sambil memainkan tali sesuai yang kami pelajari tadi. Ceritanya tentang ular yang membelit kelinci. Jadi, setiap langkah belitan tali sama dengan setiap langkah cerita. Sampai akhirnya, ketika tali terlepas, si kelinci berhasil membebaskan diri dari lilitan ular. Wah, seru loh!

Setelah semua ahli dengan trik tali pertama ini dan berhasil membuat cerita baru berdasarkan trik tersebut, Kak Aio mengajarkan trik tali kedua dan menceritakan dongeng kedua. Maafkan yah, saya nggak sempat foto setiap langkah talinya. Kak Aio bilang, di youtube banyak kok videonya. Silahkan dicari, ya!

Lalu lalu, di akhir workshop, jiwa penulis saya (sok-sok) keluar.
Saya malah kepikiran bikin cerita dengan langkah-langkah trik tali. Jadi nanti selain baca atau mendongeng, pembaca bisa bermain tali. Terlebih lagi waktu Kak Aio bilang, ada juga loh dongeng origami. Sama kaya dongeng tali, cuma setiap langkah cerita disesuaikan dengan setiap langkah lipatan. Wah, kepala saya langsung penuh dengan telur-telur ide. Haha! Ternyata ada banyak cara menghasilkan cerita dan mengkombinasikannya dengan kegiatan kreatif, ya! Kak Aio bilang, banyak kok videonya di youtube. Mari kita browsing dan belajar bersama, yuk! Kira-kira selain pakai tali dan origami, dongeng apalagi ya yang seru?

"Story telling is always fun. Storytellers always having fun" - Kak Aio
 

Sebelum Dongeng Tali, Mengapa Kamu Ingin Mendongeng?


suasana workshop- dokumentasi Bengkimut

Waktu workshop dimulai, Kak Aio bertanya sama para peserta, “Kenapa mau ikutan workshop ini?” Dan, sebagai pendongeng, pengajar, ataupun orang-orang yang peduli terhadap dunia literasi anak- terutama minat baca yang angkanya mengenaskan- jawaban para peserta berkisar pada keinginan mereka supaya lebih terampil mendongeng agar kegiatan mendongeng menjadi lebih menarik, terutama bagi anak-anak.

Saya? Saya nggak jawab. Soalnya saya dikira anggota Bengkimut. Lagipula sejujurnya, saya ikutan workshop ini karena ingin bertanya langsung sama Kak Aio, “Kenapa Kak Aio memilih untuk mendongeng?”
*peserta kurang sopan macam apa kan saya ini?

Dan dan dan, saya menemukan jawaban yang selama ini saya cari. Sekaligus memotivasi saya untuk lebih percaya diri dan berani mencoba hal baru. Soalnya, sepertinya, sebagai penulis, saya nggak bisa lepas dari kegiatan mendongeng. Ya nggak sih?

Saya : Kenapa Kak Aio mendongeng?
Kak Aio : Kenapa nggak?
(lalu tertawa jahil, berdehem serius, dan melanjutkan…)
Karena mendongeng itu sederhana, mudah, dan efeknya banyak banget untuk anak-anak. Kuncinya hanya satu, KEMAUAN.

Kalian tentu tahu, kegiatan dongeng itu banyak kreasinya. Ada yang pakai wayang, boneka tangan, suara yang berubah-ubah, dan aneka properti lain. Menurut Kak Aio, mendongeng itu sederhana saja. Sebagai salah satu bentuk komunikasi (cie, aura-aura anak komunikasinya mendadak keluar), saat mendongeng kita akan melihat respon pendengar. Dari respon tersebut, cerita bisa dikembangkan, dimodifikasi, dan lain-lain. Karena, masih menurut Beliau, mendongeng berarti menciptakan pengalaman bersama. Dalam kegiatan dongeng, anak-anak umumnya tidak memikirkan ceritanya bagus atau engga, tetapi lebih merasakan. Semakin sedikit properti, semakin baik. Karena salah satu tujuan mendongeng adalah mengembangkan imajinasi.

Nah, berikut beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum mendongeng, menurut Kak Aio :

1. Mental
Jawablah pertanyaan ini : mengapa kamu mau mendongeng?

2. Cerita
Carilah cerita yang kamu suka dan kuasai. Dengan demikian, kegiatan dongeng akan menjadi menyenangkan. Kamu pun dapat menyesuaikan cerita dengan respon pendengar secara lebih mudah.

3. Suara, Ekspresi, dan Gerak Tubuh
Ini merupakan kemampuan umum berkomunikasi, sesuaikan dengan diri sendiri. Jadilah dirimu sendiri.

4. Alat Bantu
Sesekali mau pakai boneka tangan, wayang, atau tali, boleh boleh saja.

Setelah sedikit membedah tentang dongeng dan persiapannya, mari kita membicarakan Dongeng Tali!